Anak Muda Ini Jadi Milyarder Termuda di Dunia

MOTIVASInews.com — Prestasi memang tak kenal usia. Seseorang bisa saja sukses besar di usia sangat muda, dan sebaliknya, ada juga yang baru mencapai kesuksesan di usia senja seperti halnya Colonel Sanders dengan KFC-nya.

Bicara sukses dan kekayaan yang diraih oleh usahanya sendiri, bukan karena warisan, tentu menjadi sumber inspirasi yang layak kita teladani. Benar, seseorang bisa kaya dari lahir. Namun banyak juga yang kaya karena usaha yang dirintisnya sendiri. Seperti halnya wirausahawan muda berdarah Irlandia ini.

John Collison yang baru berusia 26 tahun ini dinobatkan sebagai pengusaha termuda di dunia oleh Forbes. Ini juga berarti bahwa John berusia dua bulan lebih muda dari sang pendiri Snapchat, Evan Spiegel.

Berdasarkan daftar milyarder yang ada, disebutkan ada sebanyak 2.043 pengusaha di seluruh dunia, dan angka ini menjadi angka pengusaha paling banyak dalam waktu 31 tahun sejak Forbes melakukan pencariannya.

Bersama dengan saudaranya Patrick, yang dua tahun lebih tua, John mendirikan sebuah platform perangkat lunak untuk pembayaran online bernama Stripe, yang berbasis di San Francisco. Untuk prestasinya tersebut, mereka menjadi dua dari empat empat milyarder yang berusia 20-an.

Pada tahun 2007, saat berusia 17 tahun, John mendirikan sebuah sistem manajemen lelang online yang disebut Shuppa, dan menjualnya pada tahun 2008 dengan harga $ 5 juta atau sekitar Rp 76,4 miliar.

Dia kemudian belajar fisika di Harvard University, sebelum mendirikan Stripe bersama saudaranya di tahun 2011, saat dia masih menjadi mahasiswa (walaupun kemudian dia drop out).

Hingga saat ini, Stripe telah mengumpulkan lebih dari $ 450 juta dari investor termasuk Visa, American Express, bahkan pengusaha dan inovator Elon Musk. Menurut Wired, saat ini harga Stripe lebih dari $ 9,2 miliar.

Kepada Wired John berbagi pengalaman seputar pencapaiannya:

“Mudah bagi orang untuk berpikir bahwa peluang terbaik itu sudah diambil orang lain. Saya benar-benar tidak berpikir sama sekali bahwa itu benar.

Saran saya kepada diri saya adalah untuk tidak merasa baik dan menerima bahwa dunia ini sudah rusak, tapi justru melihatnya sebagai peluang.

Misalnya, saya rasa tidak ada yang senang dengan provider ponsel mereka. Jika ada provider yang lebih baik datang, saya tidak berpikir ada orang yang akan sangat terkejut.”

(Sumber: Indy100)

Sponsored