Demi Tetap Bisa Mengajar, Lusia Rela Hadapi Bahaya

Demi Tetap Bisa Mengajar, Lusia Rela Hadapi Bahaya - Motivasinews.com
Lusia saat melewati bambu demi mengajar. Kode unik: M#inspirasi

Motivasinews.com – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Siapapun harusnya mengakui hal ini. Banyak sekali guru-guru di Indonesia yang rela mengajari siswanya dengan sabar dan ikhlas, apapun kendala yang mereka hadapi di lapangan.  Meski  di kota-kota besar profesi guru – terutama swasta – sudah menjadi profesi yang “basah”, masih banyak guru-guru yang rela ditempatkan di pelosok terpencil negeri ini dengan fasilitas dan honor “seadanya”.

Salah satunya adalah Lusia, guru yang mengajar di SD Negeri 27 Sungai Manyan, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Perempuan ini harus berjuang melawan derasnya air sungai setiap kali hendak berangkat mengajar. Perjuangan itu terekam dalam sebuah foto yang diunggah akun Facebook Askiman Sintang. Askiman adalah Wakil Bupati Kabupaten Sintang.

Perjuangan seorang guru di pedalaman terpencil perhuluan kayan demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” tulisan yang diunggah disertai foto yang diunggah Askiman.

Dalam foto tersebut, terlihat Lusia yang mengenakan seragam batik berwarna putih sedang melewati jembatan yang terbuat dari sebatang bambu dengan beberapa tiang sebagai pegangan.

Lusia mulai mengajar dari tahun 2002 sebagai guru kontrak di daerah sampai tahun 2006. Namun sejak 2009 Lusia sudah diangkat. Sekolah tempatnya mengajar memiliki enam punya enam tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah. Fasilitas di sekolah juga masih kekurangan buku pelajaran, WC bahkan pagar.

Sebenarnya, jarak dari kediaman Lusia ke sekolah tidak terlalu jauh. Namun bahaya setiap saat bisa saja mengancam, terutama jika curah hujan sedang tinggi dan air sungai meluap. Jika air sungai pasang, biasanya akan menenggelamkan jembatan yang biasa ia lewati. Jembatan itu sendiri sudah membentang selama 20 tahun.

Lantaran tidak ada jembatan permanen, saat banjir datang masyarakat berinisiatif membuat alat seadanya agar bisa melewati sungai itu. Selain Lusia, sejumlah guru yang lain dan anak murid yang harus jalan kaki ke sekolah dengan jarak sekitar tiga kilometer dengan kondisi jalan dan jembatan yang memprihatinkan.

Menurut Askiman, keadaan ini sudah mendapat perhatian pemerintah setempat. Hanya saja lokasinya yang terpencil membuat realisasi pembangunan agak terkendala. Askiman juga berharap, keadaan ini tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar. Pun tidak mengendurkan semangat Lusia dan guru lainnya untuk tetap berbagi ilmu dan pekerti kepada generasi penerus negeri.

Penulis: Nuha

Sponsored