Kesejatian Sebagai Hamba Tuhan Dan Guru

Kesejatian Sebagai Hamba Tuhan Dan Guru - Motivasinews.com

MOTIVASInews.com – Kisah ini memang bukanlah kisah berdasarkan cerita langsung. Tapi kisah ini memang pernah terjadi dengan perbandingan 1 : 1000 di dunia. Jika dicermati dan direnungi, cerita ini sangat menyentuh hati karena ternyata kejadian di kisah inilah yang membuat mungkin beberapa guru di dunia ini dapat merubah sebuah paradigma bahwasanya seorang anak murid bukanlah sebuah objek tapi sebuah subjek yang harus dididiknya.

Seorang guru bernama Ibu Sekar mengajar di kelas lima. Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Seperti biasa, seorang guru harus memperkenalkan dirinya di depan kelas dengan penuh semangat dan kehangatan. Namun, kesemangatan dan antusiasme Ibu Sekar mendadak menurun. Dirinya merasa agak terganggu dengan pemandangan yang ada persis didepannya. Ibu Sekar melihat seorang murid yang berwajah kuyu dan dekil. Penampilannya juga sangat memprihatinkan. Karena merasa terganggu, Ibu Sekar mendekati anak tersebut dan menanyakan nama anak tersebut. Nama anak itu Firmansyah Putranto.

Sesungguhnya Ibu Sekar sudah cukup lama mengamati Firmansyah, sudah sejak satu tahun sebelumnya. Namun karena merasa tidak ada kepentingan Ibu Sekar tidak memperdulikannya. Saat itu kesan yang tertangkap oleh Ibu Sekar adalah penampilan Firmansyah yang cukup memprihatinkan. Saat ini di kelas lima Ibu Sekar mendapat kesempatan untuk mengajar di kelas Firmansyah. Waktu berlalu dan sudah satu semester sudah terlewati untuk mengajar kelas lima. Dan, Ibu Sekar sangat terkejut dan gusar melihat nilai raport Firmanysah. Banyak mata pelajaran yang gagal. Dengan rasa penasaran yang tinggi Ibu Sekar mulai menelusuri catatan akademik Firmansyah dari kelas satu.

Ibu Sekar sangat terkejut melihat nilai akademik Firmansyah sebelum  berada di kelas lima. Pada saat kelas  satu dan dua, prestasi akademik Firmansyah terbilang bagus dan di raportnya selalu ada catatan bahwa Firmansyah adalah anak yang cerdas, ceria dan bermasa depan gemilang. Namun, sejak ibu kandung Firmansyah jatuh sakit, dia menjadi kurang fokus untuk belajar.

Catatan-catatan positif semakin membuat Ibu Sekar penasaran dan melanjutkan untuk mengamati catatan akademik di kelas selanjutnya. Catatan di kelas tiga membuat Ibu Sekar terdiam karena terisi bahwa kehilangan ibu merupakan pukulan hidup yang sungguh telak untuk dialami anak sekecil Firmansyah. Sekuat tenaga Firmansyah sudah mencoba tetapi  ayahnya tidak banyak mendukungnya karena masih larut dalam kesedihan dan sangat frustrasi sepeninggal istrinya. Sejak itu prestasi Firmansyah di sekolah sangat menurun karena tidak ada dukungan dari rumah.

Menitiklah air mata Ibu Sekar karena rasa empatinya sudah mulai tumbuh pada Firmansyah apalagi saat melihat catatan yang memprihatinkan bahwa Firmansyah sudah tidak lagi menunjukkan minatnya untuk bersekolah, dijauhi teman-teman, dan sering tertidur di kelas. Teringatlah Ibu Sekar akan perilakunya pada Firmansyah, seringkali Ibu Sekar mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang guru saat melihat tingkah polah Firmansyah yang sangat apatis terhadap lingkungan kelas. Ibu Sekar pernah menumpahkan kekesalannya dengan cara membandingkan Firmansyah dengan teman-temannya secara terang-terangan di depan kelas.

Ibu Sekar juga merasa malu saat mengingat, bagaimana Firmansyah menunggunya di depan gerbang sekolah hanya untuk mengatakan bahwa dirinya sangatlah mirip dengan ibunya kandungnya. Dari gayanya, tutur katanya, gelang yang dipakainya bahkan bau parfum yang Ibu Sekar gunakan sangat mirip dengan ibu kandungnya. Tapi Ibu Sekar hanya menanggapinya dengan dingin. Butiran air mata bertambah deras dan Ibu Sekar memohon ampun kepada Tuhan atas apa  yang telah dilakukannya dan bertekad di dalam hati untuk tidak lagi mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung saja. Ibu Sekar ingin mendidik anak karena anak adalah subjek dan bukan objek dari pekerjaannya.

Kesejatian Sebagai Hamba Tuhan Dan Guru - Motivasinews.com

Ibu Sekar mulai sekuat tenaga memberi perhatian yang lebih kepada Firmansyah dan memutuskan akan memberikan pelajaran tambahan untuk Firmansyah. Mulailah Ibu Sekar menemukan Firmansyah yang sesungguhnya sebagai murid yang cerdas bahkan berhasil mengungguli semua temannya di bidang akademis. Perilaku Firmansyah mulai berubah, dengan mulai aktif di kelas, tidak tertidur pada saat pelajaran, dan mulai bermain kembali secara normal dengan teman-teman sebayanya di sekolah. Pada saat penerimaan raport kenaikan kelas, Ibu Sekar menuliskan catatan sederhana “Nak, perjuangkanlah hidupmu. Ibu selalu mendoakanmu”.

Tahun berganti tahun, lulus SD lalu SMP dan SMA, Ibu Sekar selalu menemukan selembar kertas di depan pintu rumahnya dengan catatan yang sederhana “Ibu Sekar adalah guru terbaikku”.

Empat tahun setelah lulus SMA, kembali Ibu Sekar menerima surat bertuliskan, “Ibu, aku sudah lulus jadi perwira. Aku memperoleh penghargaan dari pemimpin tertinggi negeri ini sebagai lulusan terbaik. Ibu Sekar, Ibu adalah guru terbaikku”.

Dua tahun kemudian, sepucuk surat datang dari pengirim yang sama bertuliskan, Ibu, hari ini aku ditugaskan negara untuk kuliah di luar negeri, di perguruan tinggi yang paling bergengsi di negeri Ratu Elizabeth. Sebelum berangkat, sudikah kiranya Ibu mendampingiku di pesta pernikahanku? Ibuku sudah tiada, ayah juga telah meninggal. Tak ada yang sepantas Ibu menggantikan posisi ibuku yang telah tiada di pesta pernikahanku”.                                                           kode unik:M#inspirasi79

Ibu Sekar membaca surat tersebut dengan mata berkaca-kaca dan berniat untuk memakai parfum dan gelang yang sama yang telah mengingatkan Firmansyah pada ibu kandungnya. Saat keduanya bertemu di pesta pernikahan, dengan penuh takzim Firmansyah mencium tangan Ibu Sekar sembari berkata lirih, Terima kasih, Ibu telah membuatku terlahir kembali. Ibu telah meyakinkanku bahwa aku dapat membuat hidupku lebih berarti. Entah apa yang dapat aku perbuat untuk membalas segala kebaikan Ibu. Semoga Tuhan memberi balasan yang jauh berlipat-lipat”.

Ibu Sekar dengan mata berkaca-kaca hanya dapat membalasKamu salah anakku,  kamulah yang membuat hidup Ibu lebih berarti. Kamulah yang membuat Ibu menemukan kembali kesejatian Ibu sebagai seorang hamba Tuhan dan sebagai seorang guru”.

Sponsored