Semangkok Baso Yang Menyadarkan Kesalahan Kita

Semangkok Baso Yang Menyadarkan Kesalahan Kita - Motivasinews.com

MOTIVASInews.com – Pada suatu hari ada seorang remaja pria sedang bertengkar dengan ibunya di dalam rumah dan tak lama kemudian, remaja tersebut pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan ibunya.

Berjalan sambil mengumpat dalam hati dan tanpa ada tujuan yang pasti, akhirnya remaja tersebut berhenti berjalan dan baru sadar lupa membawa dompet. Dikantong celana pun sama sekali tidak ada uang cadangan.

Tiba-tiba rasa lapar pun menderanya, dan tepat di hadapannya tanpa disengaja ada seorang penjual baso keliling berhenti dihadapan remaja yang sedang menahan lapar dan haus itu.

Abang penjual baso memperhatikan remaja itu yang terus menerus menoleh ke gerobak baso sambil menekan perutnya. Kemudian, sih abang bertanya kepada remaja itu.

“Adik, apakah mau pesan baso, dari tadi saya perhatikan kok melirik gerobak saya terus ya”.

“Iya bang, tapi saya lupa bawa dompet”, jawab remaja itu.

“Oh, tidak apa-apa, nanti saya buatkan semangkok baso gratis”.

Tak lama kemudian, semangkok baso gurih pun tersedia, dan remaja itu langsung makan dengan lahapnya. Namun, tiba-tiba air mata keluar dari mata remaja itu.

“Sambelnya kebanyakan ya”, tanya abang penjual baso

“Oh bukan bang, basonya enak dan saya terharu dengan kebaikan abang yang baru kenal dengan saya, tapi bisa langsung memberi makan saya semangkok baso secara gratis”.

“Tadi saya bertengkar dengan ibuku, dan saya pergi dari rumah terburu-buru jadi lupa membawa dompet”, jelasnya kepada abang penjual baso

“Abang yang baru saja saya kenal, tapi begitu baik kepada saya”.

Lalu penjual baso keliling itu mengatakan,¬†“Adik, kenapa kamu berpikir seperti itu. Coba renungkan sebentar hal ini, saya cuma kasih semangkuk baso yang harganya tidak seberapa dan adik sudah begitu bahagia dan terharu”.

“Tapi pernahkah adik memikirkan seorang ibu yang selama ini sudah bersusah payah merawat, dan membesarkan anaknya hingga beranjak dewasa, dan masih mau memasakan nasi beserta lauk pauk untuk anaknya makan. Seharusnya adik yang harus terharu dan bahagia terhadap orang tuanya”.

Remaja itu pun terkejut mendengar nasehat dari abang penjual baso dan menjadi sadar atas kesalahan yang selama ini dia lakukan.

Dalam hati kecilnya berkata, “Kenapa hanya dengan menyantap semangkuk baso dari orang yang baru di kenal, membuat saya begitu terharu dan berterima kasih ya ?”.

“Sedangkan sikap saya terhadap ibu yang telah merawat, membesarkan, dan memasak makanan selama bertahun-tahun hingga saya besar seperti ini, tidak pernah saya hargai dan berucap terima kasih ya”.

Setelah selesai menyantap semangkok baso, remaja itu pun berpamitan dengan abang penjual baso dan segera beranjak pulang ke rumah.

Hari menjelang malam, sebelum masuk ke dalam rumah, remaja itu sempat melihat ibunya duduk di dalam rumah dengan wajah yang cemas mengkhawatirkan anaknya yang belum pulang.

Begitu masuk ke dalam rumah, ibunya pun langsung berkata dengan wajah tersenyum “Nak, kamu sudah pulang, ayo cepat masuk, tadi ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu”.

Remaja itu pun segera tersadar akan sikapnya yang salah terhadap ibunya, dan langsung menangis dihadapan ibunya, kemudian meminta maaf atas sikapnya yang selama ini tidak pernah menghargai dan berterima kasih atas kebaikan yang telah ibunya berikan selama ini.

Pesan moral dari cerita di atas adalah, terkadang saat kita melakukan satu kesalahan, itu membuat seseorang begitu mudahnya melupakan kebaikan yang selama ini telah diterimanya.

Kita akan sangat berterima kasih atas sebuah pertolongan kecil yang diberikan oleh seseorang, dan tanpa kita sadari serta lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang didapatkan dari orang-orang yang lebih dulu dekat dengan kita.

Oleh karena itu, mulailah mengucap terima kasih kepada orang tua, suami/istri, karyawan, dan semua orang yang dekat dengan kita. Jika kita selalu bersyukur dan pandai berterima kasih, maka hidup kita akan menjadi sangat indah. Jadi sudahkah kita melakukan hal positif tersebut…

Sponsored