Cermatlah Dalam Memilih Restoran

Cermatlah Dalam Memilih Restoran - Motivasinews.com

MOTIVASInews.com – Cermatlah dalam memilih restoran atau tempat makan yang ingin Anda kunjungi untuk bersantap siang atau malam. Karena baru-baru ini ada seorang mantan koki dari sebuah restoran di sekitar daerah Jakarta yang menceritakan bagaimana cara mengakali supaya minyak goreng yang digunakan bisa berulang kali. Padahal minyak yang digunakan berulang kali bisa berakibat buruk terhadap kesehatan.

Menurut narasumber dari antaranews.com –yang tidak ingin identitas dan nama restoran tempat kerjanya terdahulu diumumkan– mengungkapkan bahwa selain itu, terdapat juga bahan-bahan lain yang semestinya tidak dicampurkan ke dalam makanan.

Berikut isi kutipan pembicaraan antaranews dengan narasumber pada Selasa malam, (11/4):

Antaranews.com: Bagaimana cara penggunaan minyak goreng di restoran tempat Anda bekerja?

Narasumber: Kalau dulu sih kejadiannya begini. Minyak bersih dipakai sama tim cooking. Terus dipakai sampai enggak layak. Kemudian minyak goreng bekas tersebut, karena tidak boleh dibuang di wastafel, lalu ditampung ke dalam dirigen. Yang saya tahu ada penadahnya.

Antaranews.com: Kategori minyak sudah tidak layak itu bagaimana?

Narasumber: Kalau tidak layak di tempat kerja saya dulu, yang sudah butek.

Jadi, walau berkali-kali pakai belum butek masih bisa dipakai? Atau ada ketentuan khusus misal minyak dari satu jenis masakan saja, atau dicampur? Ada tiga kuali, satu minyak bersih untuk goreng kentang, terus minyak buat goreng ikan, minyak untuk goreng ayam. Dipisah. Hanya kalau lagi mepet, ya goreng ikan dan ayam kadang barengan.

Antaranews.com: Katanya ada cara membersihkan minyak goreng bekas, bagaimana?

Narasumber: Caranya begini. Minyak yang telah dipakai kotor. Nah, nyalakan kompor, lalu biarkan minyaknya panas. Lalu, saat minyaknya panas, masukan nasi ke minyaknya. Nanti kotorannya menempel di nasi. Jadi minyaknya agak bersih.

Antaranews.com: Ada batasannya misalnya setelah berapa kali pakai?

Narasumber: Kalau dulu sekiranya saja. Karena kalau pakai minyak itu terus, kasihan ke customer-nya.

Antaranews.com: Berpengaruh ke rasa?

Narasumber: Namanya minyak banyak dipakai ya nanti yang digoreng pakai itu rasanya beda.

Antaranews.com: Selain menggunakan nasi ada cara lain?

Narasumber: Kalau minyak masih setengah butek kan bisa disaring terus ditambah minyak bersih baru.

Antaranews.com: Lebih sering pakai cara mana?

Narasumber: Yang ditambahin minyak baru sepertinya.

Antaranews.com: Menurut Anda cara itu benar dilakukan kah?

Narasumber: Kalau menurut saya enggak benar. Hanya kalau enggak seperti itu, perusahaan kuliner bangkrut atuh ya. Kalau posisi saya saat itu kan kerja. Jadi ya, saya cukup mengikuti Standard Operational Procedure (SOP).

Antaranews.com: Menurut Anda restoran-restoran lain melakukan hal serupa?

Narasumber: Kalau menurut saya sama.

Selain minyak, narasumber juga bersedia memaparkan beberapa fakta lain, seperti soal penggunaan angciu atau arak merah pada menu nasi goreng. Menurut dia, rasa nasi goreng akan terasa lebih lezat bila menggunakan campuran kecap manis, kecap inggris dan angciu.

Angciu biasanya dikemas dalam botol kaca seperti botol kecap manis. Bahan ini dihasilkan dari fermentasi beras ketan atau tape dengan produk akhir alkohol yang memabukkan dan dalam Islam adalah haram, seperti dilansir dari laman resmi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.

Antaranews.com: Sekalipun menggunakan angciu, restoran mencantumkan label halal?

Narasumber: Mencantumkan. Di situ saya dilema, sampai akhirnya memutuskan resign.

Antaranews.com: Kalau pelanggan meminta tak diberi angciu pada makanannya, apakah dituruti permintaan itu?

Narasumber: Kalau minta tidak pakai, ya tidak dipakai lah. Hanya kalau misalnya pesan nasi goreng spesial, nah itu sudah pasti pakai.

Jadi, kalau beli nasi goreng, tanyakanlah pada penjualnya, pakai kecap tape (angciu) enggak. Selain itu, harus jadi pelanggan cerdas, jelas narasumber.

Karena kecurangan dan kenakalan dari restoran yang berada di daerah sekitar Jakarta, maka narasumber yang baru bekerja selama dua tahun memutuskan untuk keluar pada beberapa tahun silam.

Kode unik: M#news53

Sponsored