Ketika Para Badut Bersilaturrahim

0
Halal Bi Halal Keluarga Besar Paguyuban Seniman Badut Indonesia

MOTIVASInews.com – Satu badut saja didatangkan di sebuah pertemuan, sudah cukup membuat meriah suasana. Bayangkan, bila ada lebih dari 50 puluh badut berkumpul dalam sebuah acara. Heboh, hingar-bingar, atau pasti meriah dan gegap gempita…?

Ternyata, kehebohan dan hingar-bingar itu tidak didapati di acara Halal Bi Halal Keluarga Besar Paguyuban Seniman Badut Indonesia (P@SBI) yang diadakan pada Rabu (12/7) lalu di Restoran Soto Gayeng, Sunter, Jakarta Utara.

Ketika para badut bersilaturrahim, yang ada hanyalah suasana akrab penuh kekeluargaan, canda-tawa, serta saling berbagi dan saling mengingatkan di antara para anggota P@SBI dan keluarganya yang siang itu datang.

Tidak ada sosok badut sama sekali di acara silaturrahim para badut itu. Hanya ada sosok-sosok manusia yang penuh semangat dan berjiwa seni pada kumpul anggota paguyuban para seniman badut siang itu.

“Mari kita berdoa semoga anak cucu kita menjadi orang-orang yang berguna, sukses, berbakti pada orang tua, agama, bangsa dan negara, serta semoga anak cucu kita menjadi orang-orang kaya. Aamiin…,” ujar H. Mufriyanto, sesepuh para seniman badut yang mendapat julukan Sang Maestro oleh para anggota P@SBI.

H. Mufriyanto, lelaki yang telah berusia lebih dari 70 tahun itu, dalam sambutannya mengajak para seniman badut untuk bersama berjuang demi kemajuan bersama. “Tolong, kepada para anggota P@SBI untuk tidak saling perang harga, tapi justru bisa saling komunikasi dan mengangkat martabat kita semua,” ujar lelaki yang merintis karirnya sebagai karir sejak tahun 1970 dan sudah melanglang buana hingga ke manca negara ini.

Ketika Para Badut Bersilaturrahim - Motivasinews.com

P@SBI, sebagai organisasi yang menaungi para seniman badut, menurut Marsono, Ketua Umum P@SBI, sebetulnya baru terbentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Marsono sendiri, baru menjabat Ketua Umum sejak 5 tahun lalu. “Saat ini, anggota kita sudah ada sekitar 500 orang,” tutur Marsono. Dari jumlah tersebut, lanjut Marsono, yang sudah memiliki sanggar baru ada beberapa puluh orang saja. Sisanya, “Masih bekerja lepas,” ungkapnya lagi.

Masih menurut Marsono, sebagian besar anggotanya memang masih banyak yang belum sejahtera hidupnya. Namun, dalam kesederhanaan hidup mereka,”Kita tetap selalu bersyukur dan selalu siap berbagi serta tak pernah segan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti memberi santunan anak yatim. Kami juga sering ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan untuk korban bencana alam, dan sebagainya,” tutur Marsono lagi.

Marsono yakin, profesi seniman badut tetap menjanjkan kehidupan lebih baik bagi mereka yang konsisten dan selalu meng-up date ilmu dan kemampuannya sesuai bidang dan keahliannya. Buktinya, “Beberapa dari mereka yang dulu memulai karirnya sebagai seniman badut, saat ini sudah memiliki sanggar sendiri dan kehidupannya perlahan sudah mulai sejahtera,” ungkap Marsono.

Bravo, P@SBI…!!!

Sponsored