Pemilik Ribuan Kujang dan Keris Ini Bingung Mau Dititipkan Dimana Benda Bersejarah Ini?

Pemilik Ribuan Kujang dan Keris Ini Bingung Mau Dititipkan Dimana Benda Bersejarah Ini? - Motivasinews.com
foto source: lovelybogor

MOTIVASInews.com – Pernah jalan-jalan ke Bogor? Kalau pernah, sempatkan melewati Tugu Kujang yang ada di Kota Hujan ini. Tugu Kujang merupakan salah satu tetenger atau ciri khas Kota Bogor serta memiliki nilai historis dan edukasi. Karenanya, tak salah bila tugu ini menjadi salah satu kebanggaan warga Bogor.

Pun begitu, masih banyak masyarakat yang tahu dan paham mengenai seluk beluk Kujang baik jenis, bentuk, kegunaan, dan sejarahnya.

Nah, ada seorang Dosen STIE di Bogor yang memiliki ribuan kujang dan keris di rumahnya, yang paham betul tentang arti dan seluk beluk arti kujang.

Menurutnya, Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

Pemilik Ribuan Kujang dan Keris Ini Bingung Mau Dititipkan Dimana Benda Bersejarah Ini? - Motivasinews.com

Kujang dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah “kujang” berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang). Kujang berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur.

Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda).

Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Provinsi Jawa Barat.

Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Pemilik Ribuan Kujang dan Keris Ini Bingung Mau Dititipkan Dimana Benda Bersejarah Ini? - Motivasinews.com

Menurut Sang Dosen yang tak mau disebutkan namanya ini, di kota Bogor sampai saat ini belum memiliki galeri atau museum kujang. Padahal benda-benda tersebut memiliki nilai histori dan edukasi.

Dosen yang memiliki daya linuwih ini mengaku kerap kedatangan seperti kujang dan keris sampai 2 kali dalam seminggu.

“Saya memang memiliki ribuan kujang dan keris, tapi saya bingung mau di titipkan ke mana. Sampai saat ini saya masih mencari seseorang yang peduli dan mau bekerjasama melestarikan budaya.

Dan saya ingin pertunjukan melalui pameran atau dibangunkan galeri atau museum, bahwa kujang dan keris memiliki jenis dan bentuk serta memiliki histori sang pemilik di masanya. Jujur terkadang saya merasa kerepotan dalam perawatan karena kesibukan saya. Maka dari itu kepada siapa saya titipkan benda bersejarah ini. Saya berharap pemerintah mau bangunkan galeri atau museum,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Sponsored