Menjelang pelantikan Trump, IHSG kembali melemah.

MOTIVASInews.com – Masih dalam suasana liburan, hari ini IHSG pun nampak masih enggan untuk bergerak aktif.

Seperti yang telah diantisipasi pada lansiran ellen-may.com sore ini, IHSG masih mengalami pelemahan akibat tertahan di resisten area 5300-5320 yang merupakan resisten yang cukup kuat.

Mirip dengan saham Big Caps, IHSG saat ini masih dalam masa indecission / wait and see, lebih cenderung profit taking dan mengalami profit taking jangka pendek.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini ditutup melemah 0,40% ke level 5,275.971. Saya lihat, hari ini saham-saham Blue Chips masih mengalami penurunan, masih rawan profit taking.

Harga minyak mentah bergerak positif pada perdagangan hari pertama tahun ini, ditopang oleh harapan bahwa dimulainya implementasi kesepakatan pemangkasan produksi antara negara-negara OPEC dan non-OPEC akan efektif dalam mengatasi kelebihan suplai global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak Februari 2017 naik 0,58% ke US $ 54,03 per barel , setelah dibuka dengan penguatan 0,89% di posisi 54,20.

Adapun, patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Maret 2017 menguat 0,62% ke level US $ 57,17, setelah dibuka dengan kenaikan 0,40% di posisi 57,05.

Trump Efect Again.

Awali perdagangan tahun ini, Trump effect kembali beraksi menjelang akan dilantiknya Donald Trump pada 20 Januari 2017 nanti.

Lalu, bagaimana pengaruhnya dengan IHSG? dan kebijakan apa saja yang akan berdampak terhadap Indonesia? Efek terpilihnya Donald Trump akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi global termasuk Indonesia.

Kebijakan yang di sampaikan dalam kampanye oleh Donald Trump, salah satu yang menjadi perhatian dunia adalah kebijakan pajak dan impor serta ekspor.

Ia berencana akan memotong pajak untuk kalangan pekerja dan pendapatan menengah beserta pajak perusahaan. Ia merasa bahwa pemotongan pajak akan mengurangi beban masyarakat dan pengurangan pajak perusahaan akan merendahkan biaya produksi sehingga akan lebih banyaknya keuntungan seperti kenaikan gaji bagi para pekerja serta menambah keuntungan perusahaan untuk berkompetisi dengan perusahaan luar Amerika.

Jika benar hal tersebut terjadi dalam pemerintahan Trump, hal ini akan meningkatkan daya beli dan Inflasi secara signifikan di Amerika.

Masih mengenai Trump Effect, sore tadi Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta kepada pelaku usaha agar tidak menanggapi secara berlebihan atas pidato yang dilakukan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Yaitu mengenai rencana proteksi ekonomi yang akan dilakukan negara Paman Sam tersebut. Karena, hal itu tidaklah mudah mengingat Amerika tidak mungkin dapat menyediakan semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh negaranya sendiri tanpa melakukan hubungan dengan negara lain. Selain itu, Indonesia tidak bergabung dalam Trans Pacific Partnership (TPP). Dengan demikian, jika Amerika Serikat keluar dari TPP, fundamental ekonomi Vietnamlah yang akan paling berdampak.

Jadi, meskipun IHSG akan terpengaruh oleh Trump Effect ini, namun dampaknya tidak akan terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan masih dominannya sentimen dari domestik yang mampu menopang IHSG.

Kemudian ada berita menarik hari ini, yang datang dari menteri keuangan kita ibu Sri Mulyani yang memutuskan hubungan kemitraannya dengan JP Morgan. Lalu, apa yang menyebabkan pemutusan hubungan itu? apakah akan berdampak terhadap investasi asing di Indonesia?

Penulis: Dwi Priyanto

Sponsored