Nikel Rebound, Bagaimana Saham Metals?

motivasinews.com - Nikel Rebound, Bagaimana Saham Metals ?

MOTIVASInews.cm – Hasil dari FOMC meeting pada pagi ini diperkirakan akan mempengaruhi gerak IHSG. Para trader masih menantikan keputusan bank sentral Amerika terkait kebijakan suku bunganya ditengah ketidakpastian seputar kebijakan Presiden Donald Trump. Beberapa waktu lalu, dollar juga sempat mencapai pelemahan terburuknya setelah Trump komplain bahwa setiap negara hidup dalam devaluasi.

Sementara itu, harga nikel yang sempat jatuh akibat kebijakan pemerintah Indonesia yang merelaksasi ekspor bahan tambang mineralnya membuat saham INCO melemah. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor nikel terbesar di dunia turut berperan dalam menurunnya harga nikel tersebut. Namun, berkat kebijakan dari Filipina di negaranya, laju penurunan harga nikel berhasil ditahan. Apa isi kebijakan itu? Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap harga nikel? Apakah ini turut berpengaruh terhadap pergerakan saham INCO? Sambil menikmati sarapan pagi Anda, mari kita simak ulasannya, hanya di #Kopipagi 2 Februari 2017.

Terkait kejatuhan harga nikel beberapa waktu lalu, apa hubungannya terhadap pemerintah Indonesia saat itu? Sebelum kita bahas, mari kita lihat terlebih dahulu review perdagangan kemarin.

IHSG kemarin mulai kembali menguat setelah sebelumnya sempat terjebak di area konsolidasinya, sekitar 5250-5320. IHSG kemarin ditutup dengan penguatan sebesar 0,62% di level 5,327.16. Sementara itu Dow Jones pada pagi tadi ditutup mulai menguat sebesar 0,14% ke level 19,890.94. Hasil rapat FOMC meeting yang masih menahan suku bunga membuat Dow Jones menguat. Saya lihat, IHSG masih berpotensi bergerak menguat meski masih konsolidasi di range 5250-5320.

Indonesia sebagai salah satu pengekspor nikel terbesar merupakan salah satu penyebab penurunan harga nikel kemarin. Seperti apa peranannya? Mari kita simak langsung pembahasannya berikut ini.

Kebijakan Pemerintah Terkait Ekspor Nikel.

Pada awal Januari lalu, untuk meningkatkan ekspor komoditas di Indonesia mengeluarkan kebijakan relaksasi ekspor di sektor pertambangan. Pada Rabu 11 Januari 2017, Presiden Joko Widodo mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Untuk menindaklanjuti beleid tersebut, telah diterbitkan dua Peraturan Menteri ESDM, yaitu Permen ESDM no.5/2017 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di dalam Negeri, dan Permen ESDM no.6/2017 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan Mineral ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Permurnian.

Dalam Permen ESDM no.5/2017 tertulis nikel kadar rendah di bawah 1,7% dan bauksit kadar rendah di bawah 42% wajib diserap oleh fasilitas pemurnian minimum 30% dari kapasitas input smelter. Apabila kebutuhan dalam negeri nikel kadar rendah dan bauksit kadar rendah telah terpenuhi, maka sisanya di jual ke luar negeri. Indonesia sendiri memiliki cadangan nikel sebesar lebih dari 900 juta ton. Dari jumlah itu, 580,2 juta ton masuk kategori kadar nikel di atas 1,8 persen, sementara selebihnya memiliki kadar nikel di bawah 1,8 persen. Sementara penggunaan nikel sendiri di dalam negeri di kisaran 3 juta ton per tahun.

Ini berarti bahwa dengan adanya relakasasi ekspor tersebut, Indonesia akan langsung membanjiri pasar global dengan jumlah cadangan nikelnya yang sangat besar. Dengan perhitungan volume sebesar itu, maka sentimen negatif membayangi harga bijih nikel akibat banyaknya jumlah nikel yang beredar di pasaran. Alhasil faktor tersebut memengaruhi harga nikel global.

Prospek Cerah Nikel Di Tahun 2017.

Pasca menyentuh level terendah pada akhir pekan lalu, kini harga nikel mulai beranjak naik. Rupanya pasar sudah tak lagi khawatir akan potensi peningkatan produksi akibat relaksasi kebijakan ekspor di Indonesia. Rencana, pemerintah Filipina untuk memberi kepastian akan audit pertambangannya dalam waktu dekat, justru berhasil kembali melambungkan harga. Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa sentimen positif lain yang mendukung kenaikan harga nikel selain kebijakan dari negara lumbung padi tersebut, antara lain:

1. Pertemuan produsen minyak yang tergabung dalam OPEC dan non OPEC pada 10 Desember lalu. Produsen minyak termasuk Rusia sepakat membatasi produksi mulai tahun depan sehingga melambungkan harga minyak mentah dan turut mengangkat komoditas lainnya.

2. Ekonomi China terus menunjukkan perbaikan dengan data produksi sektor industri bulan November meningkat ke level 6,2% atau lebih baik dari angka sebelumnya maupun proyeksi di level 6,1%. Ibrahim berharap, pertumbuhan ekonomi China akan membaik seiring dengan perbaikan data-data ekonomi. Akhirnya, permintaan nikel dari China terus meningkat. Sementara produksi nikel di China kemungkinan masih melambat lantaran aturan pembatasan produksi dari pemerintah.

3. Janji presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menggenjot program infrastruktur membawa peluang naiknya permintaan nikel dari negeri Paman Sam. Morgan Stanley memperkirakan kenaikan permintaan dari China dan Amerika akan mendorong harga nikel ke US$ 11.657 per metrik ton di tahun 2017. Proyeksi Morgan Stanley sejalan dengan Citigroup Inc. dan Goldman Sachs Group Inc.

4. Kebijakan tambang di Filipina sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia masih mendukung prospek harga ke depan. Filipina membatalkan izin lingkungan untuk tiga proyek tambang bijih nikel. Izin tambang. yang dibatalkan meliputi proyek nikel Ipilan Nickel dan Lebanc Mining’s Palawan, serta proyek Austral-Asia’s di Davao Oriental. Kebijakan tersebut menambah kekhawatiran pada gangguan pasokan nikel sehingga meningkatkan potensi perbaikan harga nikel.

Sentimen positif ini tidak hanya akan dapat meningkatkan prospek eskpor nikel Indonesia kedepannya, akan tetapi juga pergerakan saham ANTM serta INCO yang merupakan perusahaan dengan sektor usaha utama di perdagangan nikel. INCO sendiri pada saat adanya program relaksasi mineral dari pemerintah telah tergelincir ke level 2100, namun sekarang sudah mulai kembali rebound. Untuk polanya sendiri saya melihat INCO masih memiliki potensi untuk terbang jika berhasil menembus resistancenya. Akan tetapi, Anda harus berhati-hati terhadap pola yang mulai dibentuk INCO pada chart dailynya. Pola apakah itu?

penulis: dwi priyanto

Sponsored