Prospek Perusahaan Tembakau di 2017, Saham Apa Yang Terimbas?

motivasinews.com - Prospek Perusahaan Tembakau di 2017, Saham Apa Yang Terimbas?

MOTIVASInews.com – DI Indonesia, rokok sudah menjadi kebutuhan primer. Bagaimana kinerja tembakau di 2016? Lalu bagaimana prospeknya di 2017? Saham apa saja yang masih menarik untuk dilirik?

Tapi seperti biasa, IHSG akan menjadi hal pertama yang perlu kita perhatikan hari ini, berikut review IHSG sebelumnya.

IHSG kemarin berhasil meningkat dengan penguatan sebesar 0,50% ke level 5,353.71. Hal ini berarti bahwa IHSG semakin menjauh dari area konsolidasinya saat ini. Kenaikan IHSG ini didukung oleh penguatan disemua sektor, dengan penguatan terbesar di sektor mining (+1,81%).

Ini merupakan hal yang sangat jarang terjadi, mengingat kondisi global yang tidak menentu seperti saat ini. Sementara itu Dow Jones pada hari ini melemah tipis 0,03% ke level 19,884.91, beda halnya dengan EIDO yang melonjak hingga 0,94% ke level 24.72.

Indeks dollar Amerika ditutup merosot ke level 99,307, pasca keputusan The Fed yang diperkirakan masih akan menahan suku bunga. Ini merupakan level terendah sejak 11 November 2016, sekaligus menunjukkan penurunan 2,85% ytd. Namun, Federal Reserve menyiratkan pihaknya masih optimis akan dapat melakukan kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017 ini. IHSG hari ini akan bergerak mixed dikisaran 5335-5380,

Di Indonesia, rokok sudah seperti menjadi kebutuhan primer. Besarnya jumlah perokok serta pendapatan yang disumbangkan ke negara, membuat industri rokok memiliki peranan cukup penting terhadap pertumbuhan NKRI. Seperti apa hubungannya? Mari kita simak saja langsung ulasan selengkapnya.

Rokok Dan Ekonomi Indonesia.

Indonesia dan rokok merupakan salah satu drama dalam perekonomian Indonesia. Pemerintah ingin mengurangi konsumsi rokok yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Namun disisi lain, industri rokok sendiri termasuk industri yang menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, serta memberikan pendapatan pajak terbesar bagi pemerintah. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia memberikan dampak positif disisi perekonomian.

Setiap harinya, kita pasti melihat banyak sekali orang yang merokok disekitar kita, baik orang dewasa bahkan remaja dan anak kecil. Hal ini membuat rokok sudah merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari, hingga muncul istilah “tidak ada hari tanpa merokok”. Rilis Fakta Tembakau dan Permasalahannya di Indonesia yang dikeluarkan oleh Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI 2016 menunjukkan, posisi rokok dalam pengeluaran harian rumah tangga berada di urutan kedua tertinggi setelah beras.

Sementara menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2014 tentang rata-rata pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan, diketahui rata-rata orang menghabiskan Rp439 ribu per kapita per bulan untuk makanan dengan porsi terbesar adalah makanan jadi sebesar Rp142 ribu, dan padi sebesar Rp54 ribu atau 12 persen. Tidak heran rokok sudah menjadi kebutuhan primer bagi warga Indonesia saat ini.

Jika dilihat dari sisi ekonomi, rokok merupakan salah satu industri yang sangat menjanjikan. Dari industri rokok saja, diperkirakan bahwa perusahaan rokok telah menyerap 6,1 juta tenaga kerja untuk bekerja di pabrik-pabrik rokok. Kementerian Keuangan juga mencatat bahwa penerimaan cukai rokok sebesar Rp 8,1 triliun pada dua bulan awal 2016. Sementara itu, penerimaan cukai rokok pada APBN-P 2016 dipatok sebesar Rp 141,7 triliun. Angka ini lebih tinggi Rp 1,9 triliun dari target APBN 2016 sebesar Rp 139,8 triliun..

Besarnya angka pendapatan rokok ini, tidak lepas dari banyaknya jumlah perokok di Indonesia yang mencapai hingga 66 % dari total penduduknya. Jumlah ini membuat Indonesia menjadi negara dengan perokok terbesar nomor 1 di dunia, diikuti oleh Rusia dengan jumlah sebesar 60 persen dari jumlah penduduknya. Peringkat tiga hingga sembilan, berturut-turut, yaitu China (53 persen), Filipina (48 persen), Vietnam (47 persen), Thailand (46 persen), Malaysia (44 persen), India (24 persen), dan Brasil (22 persen). Sehingga tidak heran jika pendapatan pemerintah dari industri rokok sangatlah besar.

Produksi membaik, Pasca Bencana Tahun Lalu.

Pada 2016 lalu, terdapat beberapa hal yang menyebabkan turunnya harga saham-saham rokok di Indonesia. Salah satunya ialah akibat adanya isu harga rokok yang akan dinaikkan hingga RP 50.000 yang sebabkan produksi rokok menurun saat itu. Selain itu, gagalnya panen tembakau akibat La Nina 2016 kemarin, menyebabkan bahan baku rokok merosot drastis. Jumlah total lahan yang bisa dipanen akibat dilanda La Nina kemarin hanya sekitar 60% saja. Padahal normalnya para petani tembakau bisa memanen 100% hasil tanam tembakau mereka.

Sementara itu, di 2017 ini, diperkirakan dengan iklim yang mendukung produksi, tembakau akan kembali normal bahkan meningkat. Produksi tembakau di 2017 ini diperkirakan berada di kisaran 180.000 ton-200.000 ton. Kementerian Perindustrian (Kemperin) mencatat, kebutuhan konsumsi rokok dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan catatan Kemperin, pertumbuhan produksi rokok naik pada kisaran 5% hingga 7,4% per tahun. pada tahun 2016, kebutuhan rokok diperkirakan naik mencapaii 421,1 miliar batang. Sedangkan di tahun 2020, diproyeksikan kebutuhan mencapai 524,2 miliar batang. Tingginya permintaan rokok ini membuat industri-industri rokok masihlah potensial.

Kenaikan jumlah produksi rokok tersebut tidak hanya meningkatkan jumlah pendapatan yang diterima oleh pemerintah, akan tetapi juga berimbas terhadap jumlah pendapatan perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Beberapa perusahaan rokok yang perlu diperhatikan ialah GGRM dan HMSP yang pada saat ini masih berada dikisaran supportnya. Diperkirakan jika produksi rokok tahun ini mengalami peningkatan, maka harga saham-saham tersebut berpotensi mengalami rebound.

penulis: dwi priyanto

Sponsored