3 Sentimen Domestik dan Saham Bakrie Melemah, Apa Pengaruhnya ke IHSG?

Motivasinews.com - 3 Sentimen Domestik dan Saham Bakrie Melemah, Apa Pengaruhnya ke IHSG?

MOTIVASInews.com – Kemarin, IHSG bergerak liar, akibat berbagai sentimen dari dalam dan luar negeri yang sempat menyebabkan panic selling terhadap beberapa saham di Indonesia. Namun, hari ini terdapat beberapa sentimen yang diharapkan akan dapat sedikit meredam pergerakan IHSG agar tidak seperti kemarin. Sentimen apa sajakah itu? Lalu, bagaimana nasib saham Bakrie kedepannya?

Setelah kemarin sempat bergerak liar akibat kepanikan investor, IHSG ditutup hanya melemah tipis. Mari kita simak review IHSG kemarin.

IHSG ditutup melemah tipis sebesar 0,05% di level 5,378.07. Pelemahan IHSG ini merupakan akibat dari pidato Janet Yellen beberapa waktu yang lalu, yang mengatakan bahwa masih ada kemungkinan untuk menaikkan suku bunga sebanyak 3x tahun ini. Selain itu, hasil Pilkada yang juga diluar perkiraan mengakibatkan investor masih wait and see menunggu kepastian untuk saat ini. Sementara itu, setelah kemarin terus mengalami lonjakan 3 hari berturut-turut, kenaikan Dow Jones mulai terbatas. Hari ini Dow Jones naik tipis sebesar 0,04% ke level 20,619.77. Berbanding terbalik dengan EIDO yang tergerus hingga 0,80% ke level 24,80 hari ini.

Hari ini, IHSG berpotensi bergerak mixed dalam range 5358-5414.

Setelah kemarin terjadi panic selling dan mengakibatkan beberapa saham berguguran, seperti saham-saham Bakrie, hari ini terdapat 3 sentimen yang keluar dari domestik. Sentimen apakah itu? Apakah sentimen tersebut berdampak negatif ataukah positif? Langsung saja simak pembahasan selengkapnya berikut ini.

3 Sentimen Domestik.

Kemarin, terdapat 3 sentimen yang berasal dari domestik yang harus kita perhatikan, antara lain:

1. BI Tahan Suku Bunga Acuan.

Bank Indonesia (BI), memutuskan kembali menahan suku bunga acuan, yakni 7 Days Reverse Repo Rate tetap berada di level 4,75%. Penetapan suku bunga ini dilakukan kemarin sore, pada rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Sementara untuk suku bunga depocit facility tetap di angka 4%, dan suku bunga lending facility tetap 5,50%. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan, dengan mengutamakan momentum kepulihan ekonomi domestik. Sejalan dengan membaiknya perekonomian global.

2. Neraca Dagang Mengalami Surplus.

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2017 tercatat surplus US$ 1,40 miliar dengan ekspor US$ 13,38 miliar, serta impor US$ 11,99 miliar. Angka ini merupakan surplus terbesar sejak Januari 2014. Kenaikan neraca dagang dan eskpor tersebut, tidak terlepas dari naiknya harga berbagai komoditas di dunia yang menunjukkan sudah pulihnya perekonomian global. Menteri keuangan Sri Mulyani sendiri juga merasa positif, bahwa ekspor Indonesia paling sedikit akan terus meningkat 0,2% per kuartalnya.

3. Pemerintah Hapuskan SIUP dan TDP.

Kemarin, pemerintah memutuskan untuk menghapus kewajiban perpanjangan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Keputusan tersebut diambil sebagai salah satu cara untuk memperbaiki indeks kemudahan berusaha atau Ease Of Doing Bussines (EODB). Dengan adanya keputusan tersebut, perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar dan beroperasi sebelumnya, tidak perlu lagi mendaftar dan melakukan perpanjangan izin usaha. Kebijakan tersebut diperkirakan akan terlaksana penuh pada minggu depan. Untuk mempercepat prosesnya, pemerintah juga mulai mengeluarkan edaran ke dinas-dinas agar kewajiban tersebut ditiadakan.

Selain sentimen diatas, berikut ini beberapa update, terkait jatuhnya saham Bakrie kemarin terkait restrukturisasi utangnya.

Adapun beberapa point penting yang didapatkan seperti:

• BUMI merupakan perusahaan batubara terbesar di Indonesia, yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Selatan, yang memberikan kontribusi 20% terhadap produksi batu bara nasional.

• Outlook 2017. Manajemen BUMI memperkirakan produksi di tahun 2017, tumbuh 5-7% YoY menjadi 91-93juta tons, serta harga jual rata-rata naik 30% YoY menjadi USD55juta/ton. Sekitar 60% volume telah dijalankan. Manajemen juga memperkirakan kinerja laba akan tumbuh 75% di akhir kwartal I 2017.

• Posisi Neraca, Per September 2016, hutang berbunga mencapai
USD3.8miliar, sementara Modal masih negative sebesar USD2.7miliar.

• Restrukturisasi hutang. BUMI tengah dalam tahap penyelesaian
restrukturisasi hutangnya, termasuk dengan pola Debt-equity Swap. Terkait restrukturisasi hutang, pada tanggal 7 Feb 2017, pemegang saham juga menyetujui penerbitan saham baru. Dimana jumlah saham baru yang akan diterbitkan mencapai 37.9miliar. Target penyelesaian di akhir Semester I 2017.

• Risiko. Risiko utama dari adalah volatilitas harga batu bara terhadap laba BUMI. Sementara risiko lainnya seperti, harga minyak, regulasi, perubahan ijin, serta potensi penjualan saham oleh pemegang obligasi pasca mengoversikan hutangnya ke dalam saham.

Memang, saat ini saham-saham Bakrie sedang melemah. Namun, saham-saham tersebut, terutama BUMI masih memiliki potensi untuk kembali menguat, mengingat belum adanya sentimen negatif yang keluar terhadap saham-saham milik Aburizal Bakrie tersebut.

Sementara itu, akibat nada optimis dari Janet Yellen yang mengatakan akan melakukan kenaikan suku bunga sebanyak 3x tahun ini, membuat rupiah kembali terdepresiasi ke level Rp 13.329. Hal ini tentunya merupakan sentimen negatif terhadap beberapa saham di perbankan, seperti BMRI, BBRI dan bank lainnya. Terutama BNLI yang mencatatkan rugi bersih hingga Rp 6,48 triliun.

Penulis: dwi priyanto

Kode Unik: M#valas85

Sponsored