Belajar Bersifat Sabar dan Ikhlas Dari Sosok Mbah Gotho

Belajar Bersikap Sabar dan Ikhlas Dari Sosok Mbah Gotho - Motivasinews.com
Mbah Gotho semasa hidup saat merayakan ulang tahunnya yang ke- 146 tahun pada 31 Desember 2016 bersama cucu-cucunya. Source image: tribunnews.com

MOTIVASInews.com – Sodimejo (146 thn) yang lebih sering dipanggil dengan Mbah Gotho telah tutup usia. Mbah Gotho kelahiran Sragen tahun 1870 diperkirakan akan menjadi manusia tertua di dunia, beliau meninggal di kediamannya pada Minggu (30/4), pukul 17:45 WIB. Pada saat berita tersebut tersebar, hampir seluruh warga dari rt. 18/06 Dukuh Segeran, Cemeng, Kecamatan Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah, menuju rumah duka dan memenuhi ruangan rumah duka tempat dimana jenazah Mbah Getho disembahyangkan.

Warga juga turut serta dalam mengantar jenazah Mbah Gotho menuju ke tempat pemakaman Tanggung Grasak Plumbon, Sambung Macan, sekitar 300 meter dari rumah duka, dan langsung dipasangkan sebuah batu nisan atas permintaan terakhir dari almarhum semasa hidupnya. Para warga merasa sangat kehilangan Mbah Gotho sebagai sosok yang dituakan di daerah tersebut.

“Saya ketemu beliau semasa hidupnya menerima apa adanya, dari semua pemberian orang. Beliau sudah memesan batu nisan untuk kuburannya sejak 1992,” kata Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno saat melayat ke rumah duka.

Sebelum meninggal, Mbah Gotho sempat dirawat selama enam hari di Rumah Sakit Umum Daerah Soehadi Prijonegoro Sragen.

Karena usianya yang sudah berumur, Pemda Kabupaten Sragen sempat memberikan perhatian kepada Mbah Gotho dengan menunjuk petugas dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil menuju rumahnya untuk membuat E-KTP.

“Saya melihat semasa hidupnya Mbah Gotho sering menolong orang, dan penyabar,” kata Sugi, salah satu warga setempat yang turut melayat Mbah Gotho.

Salah satu cucu dari Mbah Gotho, Suryanto (47 thn) mengatakan bahwa semasa hidup kakeknya tidak mempunyai pantangan makanan, yang sangat disukainya adalah sayuran yang berkuah, sambal dengan tempe goreng.

“Mbah Gotho sangat suka minum teh manis, dan di usianya yang sudah tua beliau masih tetap makan sate kambing dan tidak mempengaruhi kesehatannya,” lanjut Suryanto

Pesan terakhir Mbah Gotho kepada anak dan cucunya adalah supaya ikhlas apabila nanti Tuhan telah memanggilnya.

Sebelumnya pada 12 April 2017, Mbah Gotho pernah dilarikan ke rumah sakit akibat sakit pada organ lambungnya dan dirawat selama enam hari lalu minta pulang.

Menurut Suryanto, saat itu Mbah Gotho akan mendapatkan transfusi darah sebanyak tujuh kantung, entah kenapa setelah melakukan transfusi darah yang ke tiga, Mbah Gotho sudah merasa agak sehat dan minta pulang ke rumahnya. Setelah diperiksa kembali oleh dokter yang merawatnya, akhirnya diberikan izin pulang oleh sang dokter pada 17 April yang lalu.

“Beliau meninggal dunia karena kondisinya melemah, tidak mau makan karena perutnya merasakan kenyang dan tidak mau merepotkan orang lain,” kata Suryanto usai mengantar jenazah kakeknya itu ke pemakaman.

Menurutnya, yang perlu dijadikan contoh dari sosok Mbah Gotho adalah sifat penyabarnya. Karena sifat sabarnya terlalu berlebih, maka apabila belia merasa lapar atau haus, beliau tidak mau merepotkan orang untuk mengambilkannya makanan dan minuman.

Pada saat kondisi fisik Mbah Gotho masih sehat, cucu-cucunya sempat menyuapinya makan selama sebulan.

Beberapa waktu yang lalu saat Mbah Gotho masih berada di rumah sakit, ada beberapa tim dokter dari Amerika Serikat datang mengunjungi Mbah Gotho untuk mengambil sample DNA, gigi, dan air kencingnya, ungkap Suryanto.

Selang beberapa hari kemudian, tim dokter dari Amerika Serikat itu mengirimkan hasil sample dari pemeriksaan terhadap Mbah Gotho dan membenarkan bahwa usia Mbah Gotho sebagai manusia dengan usia paling tua di dunia.

Kemudian dari pernyataan dari cucu Mbah Gotho lainnya, Suwarni (42 thn) mengatakan kakeknya pertama kali diperiksa oleh dokter saat dirawat di RSUD Sragen, kemudian menceritakan kepada dokter tersebut, kakeknya jika merasa tidak enak badan minta dikerok badannya dan itu bisa membuatnya sembuh dan sehat kembali setelah dikerok.

Mbah Gotho juga sebelumnya telah mendapatkan bantuan berupa alat pendengaran, dan itu sangat membantu sekali apa lagi pada saat menerima tamu-tamunya untuk berkomunikasi. Namun, sejak sakit menderanya alat pendengaran itu sudah tidak pernah beliau pakai lagi, kata Suwarni.

Mbah Gotho mempunyai 12 saudara kandung, beliau merupakan anak kedua. Semua saudara kandung Mbah Gotho telah meninggal dunia, ungkap Suwarni.

Saat usia Mbah Gorho masih muda, beliau sehari-harinya adalah seorang petani. Pergi mencari ikan di Bengawan Solo adalah hobinya. Beliau juga dikenal sebagai orang yang penyabar, ikhlas, dan suka menolong orang lain. Oleh karena hal tersebut, Tuhan mungkin kemudian memberikan beliau usia yang panjang, jelas Suwarni.

“Pada saat zaman perang perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda, beliau sering membantu para pejuang yang mengalami luka-luka akibat terkena senjata api,” kenang Suwarni.

kode unik: KLIK di sini

Sponsored