Kisah Papan Nama Sembahyang Leluhur.

MOTIVASInews.com – Kisah berikut ini merupakan asal-usul papan nama sembahyang leluhur dan bagaimana orang Tionghoa menghormati leluhur dengan memasang kayu nisan pada kuburan leluhurnya.

Dahulu kala, disebuah desa kecil di negeri China hiduplah seorang ibu tua bersama seorang anak laki-lakinya. Sehari-harinya si anak bekerja di sawah mereka yang tak begitu luas. Saat menjelang siang setiap harinya sang ibu mangantar makan siang untuk anaknya. Namun malang, jika sang ibu terlambat mangantar makanan anaknya maka si anak akan memarahinya dan tak segan untuk memukul ibunya.

Suatu hari, matahari begitu terik menyinari bumi. Karena kelelahan si anak beristirahat di bawah pohon. Sambil mengipasi dirinya, ia mengamati sekitarnya. Pandangannya tertuju pada anak-anak kambing yang sedang menyusu kepada induknya dengan posisi sujud. Si anak tertegun.

“Wah kambing saja begitu menghormati induknya, bahkan saat menyusui saja harus sujud di hadapan induknya. Sedangkan aku, bahkan memukuli ibu bila terlambat mengantar makananku, sungguh tak berguna aku”.

Dalam hati si anak bertekad untuk selanjutnya akan menghormati ibunya dan tidak akan memarahi, apalagi memukul ibunya lagi. Dari kejauhan tampak sang ibu sedang berjalan menuju tempat anaknya. Sang ibu terlihat begitu kelelahan di bawah terik matahari siang itu.

Melihat ibunya dari kejauhan, si anak tak sabar lagi sambil berlari menyusul ibunya ia berteriak memanggil.

”ibu…..ibu……ibu…….!”

”ibu……ibu…..ibu…….!”

Bukan kepalang kaget sang ibu melihat anaknya berlari ke arahnya sambil berteriak-teriak.

“Ya Tuhan, salah apalagi aku hari ini hingga anakku begitu marah padaku ia pasti akan memukuliku”. Pikir sang ibu dengan sangat sedih. “Hari ini aku tidak akan membiarkan dia memukulku lagi”.

Sang ibu pun berbalik dan berlari menghindari anaknya sementara si anak terus mengejar. Si anak semakin mendekat dan sang ibu pun berlari sangat kencang sekuat tenaga. Hingga akhirnya, sampailah sang ibu di bibir sungai

Sungai tersebut tidak terlalu dalam namun airnya tidak pernah kering. Tanpa pikir panjang, sang ibu pun melompat ke dalam sungai tersebut karena melihat anaknya sudah hampir mendekati dirinya.

Bukan main kaget si anak melihat ibunya menceburkan diri ke dalam sungai. Ia menunggu dan berharap agar ibunya muncul ke permukaan sungai. Namun, ibunya tak kunjung muncul juga. Ia pun menangis dan meratap di pinggir sungai dengan sangat sedih. Beberapa saat kemudian ia melihat sekeping papan mengapung dipermukaan sungai. Ia langsung mengambil papan tersebut untuk kemudian ia bawa pulang dan dalam hatinya ia berpikir, “Sepotong kayu ini adalah pengganti ibu dan kini ibu telah tiada”.

Setiap hari si anak bersujud dan berdoa untuk ibunya melalui sepotong papan tersebut.

Kadang-kala ia juga menyajikan makanan kesukaan ibunya di depan papan tersebut, walaupun setiap kali makanan tersebut masih tetap ada tak bergerak sedikit pun.

Hingga suatu hari si anak menikah, ia pun selalu berpesan kepada isterinya untuk selalu menghormati dan melakukan seperti apa yang ia lakukan terhadap papan tersebut. Lama-kelamaan si isteri bosan karena tiap hari selalu menyembah papan tersebut. Maka lupalah ia menjalankan kewajibannya. Tak jarang si isteri pun tidak menyembah papan tersebut hingga si suami mendapati potongan papan tersebut mengeluarkan darah. Si suami pun memarahi isterinya dan menjelaskan bahwa papan tersebut merupakan simbol dari ibunya. Dengan demikian, mengertilah si isteri dan ia tak pernah lagi lalai melaksanakan kewajibannya dan papan tersebut tidak lagi mengeluarkan darah.

Kisah di atas merupakan asal-usul orang Tionghoa menghormati leluhur dengan memasang kayu nisan pada kuburan leluhurnya. Konon katanya papan tersebut diukir nama leluhur beserta tanggal meninggal dan dibubuhi cat merah pada nama leluhur yang meninggal, sedangkan cat hijau untuk nama keluarga lain seperti isteri atau suami.

Masyarakat di negeri Tiongkok sangat percaya hukum sebab akibat, dimana jika kita berbuat baik, kebaikanlah yang kita dapat, jika kita berbuat jahat, maka kejahatan pula upah yang kita terima. Hormat pada leluhur itulah akar dari semua berkat kehidupannya.

Penulis: Dwi Priyanto

Sponsored