Mahasiswi Cantik Ini Rela Jadi Sopir Angkot dan Kuli Bangunan Demi untuk Kuliah

Mahasiswi Cantik Ini Rela Jadi Sopir Angkot dan Kuli Bangunan Demi untuk Kuliah - Motivasinews.com

MOTIVASInews.com – Banyak cerita tentang gadis muda yang menjual kehormatan bahkan kegadisannya demi bisa sekolah. Tapi, kisah hidup gadis cantik berkulit kuning langsat ini, barangkali bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi remaja putri lainnya, terutama di Indonesia. Di tengah kehidupan yang kian sulit, gadis bertubuh tinggi, langsing dan berhidung mancung ini, muncul dengan cerita hidupnya yang sungguh dramatis.

Brenda Trivena Grace Salea, namanya. Ia masih tercatat sebagai mahasiswi semester 7 Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK)-Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Manado.

Banyak yang tidak percaya jika Brenda begitu terkenal di Terminal Likupang sebagai sopir mikrolet.

Selain karena cantik dan memiliki perawakan bak model, Brenda adalah seorang mahasiswi. Namun demi membantu ekonomi keluarga, pekerjaan keras yang biasa dilakukan kaum pria, dia kerjakan.

Tak hanya sopir angkot, Brenda juga nekat angkat karton-karton berisi air mineral untuk dipasok ke warung-warung. Bahkan pernah menjadi kenek bangunan.

Mahasiswi Cantik Ini Rela Jadi Sopir Angkot dan Kuli Bangunan Demi untuk Kuliah - Motivasinews.comSaat ditemui di tempat kosnya di Jalan Kembang Kecamatan Sario, Manado, pekan lalu, Brenda mengungkap perjalanan hidupnya yang begitu keras namun menginspirasi itu.

“Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya lahir di Rasi, Ratahan, Minahasa Tenggara,” kata Brenda yang kini tinggal di Likupang, Minahasa Utara.

Semasa kecilnya, ayah Brenda adalah seorang sopir angkot di Ratahan. Mengabdi kepada seorang bos, ayah Brenda mengendarai angkot jurusan Tombatu-Ratahan atau Liwutung- Ratahan.

“Ayah juga kerja sampingan memelihara ayam, ikan mas, dan ikan mujair. Ia juga pernah memelihara katak sawah,” ujarnya.

Melihat kesulitan ekonomi di keluarganya, saat duduk di kelas 4 bangku Sekolah Dasar (SD), Brenda sudah mulai turun ke jalan jualan ikan. Ia berteriak “ikan manta (mentah)” untuk menarik pembeli.

“Saat mau naik ke kelas enam, kami pindah ke Likupang Timur,” kenangnya.

“Mobil itu walau bekas sudah merupakan milik sendiri. Saya mulai dikenalkan mobil. Itu setelah ayah selesai bekerja,” katanya.

Ayah Brenda punya cara unik mengajarkannya sebelum benar-benar memegang setir, mengendarai mobil. Ia disuruh belajar membuka ban, menyapu dan melihat mesin.

“Ini agar saya bisa mengganti ban saat ban kempis di hutan,” katanya.

Sambil belajar mobil, Brenda masih berjualan. Ia menjual pisang goreng, dan ikan masak sepulang sekolah.

“Polisi dan tentara di kampung kenal saya sebagai penjual pisang,” ujarnya.

Brenda Trivena Grace Salea, mahasiswi cantik yang tak malu bekerja sebagai sopir angkot

Kesempatan awal untuk membawa penumpang ternyata datang tidak disangka-sangka. Sang ayah ketika membawa angkot, merasa kurang sehat. Padahal penumpangnya penuh,

“Jadi saya memberanikan diri mengambil kendali. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA,” katanya.

Brenda mengakui selama menjadi sopir banyak pengalaman unik.Ibu-ibu kadang kaget melihat dirinya sebagai seorang sopir.

“Ada yang tidak percaya sama saya. Ada bahkan yang berpegangan kuat di badan mobil,” katanya.

“Ada yang berkelakar hati-hati dengan saya. Saya katanya jago bawa mobil,” ujarnya.

Ia juga mengaku sudah dikenal hampir semua sopir. Ia biasa dipanggil Brenda atau “om Berenhard pe anak” (anaknya om Berenhard).

“Saya dikenal walau hanya bekerja sebagai sopir di hari Sabtu. Senin sampai Jumat saya kuliah dan pulang memakai bus di hari Jumat,” katanya.

Dalam satu hari, kata Brenda, ia bisa memperoleh uang Rp 300 ribu. Itu artinya satu setengah ret (satu kali bolak-balik LikupangTatelu ditambah satu kali perjalanan kembali ke Likupang).

“Saya akan tambah pendapatan jika ada anak sekolah misalnya yang akan pergi lomba ke Airmadidi. Saya nggak perlu nungguin, jadi masih bisa narik satu ret untuk itu,” ujarnya.

Dari uang itu, Brenda hanya mendapatkan Rp 100 ribu. Ia menyetor ke ayahnya sebesar Rp 100 ribu dan mengisi bensin Rp 100 ribu.

“Dengan itu saya sudah tidak terlalu sering meminta uang kepada orangtua. Itu sudah mengurangi beban mereka walau hampir semua kebutuhan saya juga masih ditanggung mereka,” katanya.

Brenda mengaku hampir tidak pernah bertahan lama dengan pacar di saat SMA. Pacar-pacarnya saat itu tidak menerima ia menjadi sopir angkot.

“Tapi sekarang puji Tuhan, pacar saya sekarang menerima saya,” ujarnya.

Ternyata, tidak perlu menggadaikan kehormatan dan harga diri untuk bisa survive melakoni hidup ini. Brenda Trivena Grace Salea sudah membuktikannya…

Sponsored