Renitasari Adrian, Women Of The Year 2016

MOTIVASInews.com – Gegap gempita memenuhi delapan titik di Grand Indonesia Jakarta, Minggu 20 November 2016 siang. Ribuan penari dengan berbagai kostum hasil kreasi dan ciri khas budaya daerah tampil gembira. Mereka adalah peserta Indonesia Menari 2016 yang diselenggarakan Galeri Indonesia Kaya (GIK). Event ini merupakan persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sebanyak 1500 orang terdiri dari perorangan, komunitas, sanggar tari, sekolah, atau universitas dari usia 4 hinggga 48 tahun menari bersama. Ada hadiah dengan total 150 juta untuk para pemenang. Kemeriahan ini juga diikuti sejumlah pekerja seni muda yang wajahnya kerap tampil di layar kaca televisi yakni Tatjana Saphira, Mario Ginanjar, Asmara Abigail, Brandon Salim dan penari Ufa Sofura. Dari atas panggung, mereka menyalurkan kegembiraan menari bersama seluruh peserta.

Koreografi gabungan gerakan tarian tradisional nusantara dan modern karya Takako Leen dari EKI Dance Company ini diiringi musik aransemen Pongky Prasetyo. Lagu-lagu daerah digabungkan yakni Siksik Sibatumanikan dari Sumatera Utara, Paris Berantai dari Kalimantan Selatan, Sajojo dari Papua, Jali-jali dari Betawi, Janger dari Bali dan Poco-poco dari Sulawesi Utara.

Dan tak ayal, hasil aransemen paduan musik daerah, semarak kostum warna-warni dan tarian-tarian itu menjadi daya tarik bagi ribuan pasang mata yang melewati pusat main stage East Mall Grand Indonesia Jakarta.

Siapa sangka, kemeriahan dan kesuksesan acara ini ada di tangan seorang perempuan cantik, Renitasari Adrian. Renita-lah yang menjadi Program Director dalam Bakti Budaya Djarum Foundation ini.

Upaya mendatangkan 1500 penari ini, kata Renita didedikasikan untuk kelestarian budaya Indonesia. Dia ingin menyebar ‘virus’ kepada anak muda Indonesia agar semakin mencintai Indonesia. Sebab, di Indonesia banyak sekali lagu, musik, bahasa, budaya hingga busana yang berbeda-beda. Setiap daerah mempunyai ciri khas yang tidak sama.

“Kami ingin seluruh masyarakat terutama anak muda yang selama ini tidak punya tempat untuk mengekspresikan diri, bisa tampil di sini menunjukkan rasa cintanya pada budaya Indonesia,” ujar Renita.

Renita yakin jika semua pemuda Indonesia mempunyai rasa cinta yang besar pada bangsa dan budaya yang ada. Hanya saja, saat ini sarana untuk menunjukkan ekspresi diri sangat minim dan terbatas. Dan tempat yang dikenal sebagai fasilitas berkesenian hanya di Taman Ismail Marzuki Cikini.

Diakui Renita, kecintaannya pada budaya dan seni sudah ditanamkan keluarganya sejak kecil, sejak dia menghabiskan masa kecil di Bandung. Bagaimana gembiranya saat ikut pagelaran seni di sekolah dalam peringatan Hari Kartini. “Waktu itu mengenakan kostum daerah, konvoi di jalan,” kata dia.

Selain itu, oleh orang tuanya, Renita ikut sanggar studio Jugala yang dikomandoi Gugum Gumbira. Renita belajar tari Jaipong dan dan tarian klasik sunda, Sekar Putri. Sesekali di masa SMP dan SMA dia tampil di panggung dalam peringatan hari besar nasional. Dia juga sempat menjadi Runner Up Mojang Jajaka Bandung Tahun 1991 sebelum melanjutkan kuliah di Singapura selama 3,5 tahun di bidang Public Relation di Stamford College.

Tak disangka, kariernya di Djarum Foundation menempatkannya dalam program Bakti Budaya. Waktu itu, Renita bingung harus mulai dari mana mengembangkan budaya Indonesia. “Sebab, budaya itu sesuatu hal yang tua. Saking banyaknya budaya Indonesia tidak tahu harus mulai dari mana. Semuanya harus dilestarikan. Dan dengan berbekal kemampuan saya di bidang lifestyle, marketing travel sekaligus pemerhati art, saya bisa mengikuti perkembangan,” ujar perempuan yang hobi traveling, memasak dan beraktivitas di luar ini.

Pekerjaannya ini didukung suami tercinta Ryan Adrian yang kini menjabat sebagai Managing Director di PT Indonesia International Expo. Kelima puterinya pun mendukung kegiatan seni dan budaya yang digelutinya. Bahkan kelima puterinya memilih jalur serupa. Puteri pertama Nadya Natasha suka menari, memotret, dan melukis, puteri keduanya Adiva Kayla Adrian pandai bermain gitar dan piano, sementara Azzura Jasmine Adrian suka menggambar, Raisha Zahra focus pada acting dan seni clay, dan kemudian Adeyla Kayla Adrian suka menari dan acting. “Semua kesukaan puteri saya terkait seni dan saya mendukung semuanya,” ujar perempuan kelahiran Bandung 12 Februari 1974 ini.

Renita ingin anak muda masa kini semakin mudah mengekspresikan kecintaan pada seni di Indonesia. Untuk itulah dia sangat mendukung GIK yang ada di lantai 8 West Mall Grand Indonesia dijadikan sarana bertemu para pemerhati seni. Ruang publik itu gratis digunakan dan tidak dikenakan tiket masuk. Tentu saja, semua yang dibahas di panggung berkapasitas 150 penonton itu harus bicara keindonesiaan dan melibatkan anak muda Indonesia.

“”Kita mensubsidi pertunjukan yang kami pilih untuk acara prime time akhir pekan di GIK,” kata Renita yang baru saja meraih Women Of The Year 2016 from Her World Indonesia.
Sponsored