Yang Tidak Minum Alkohol Lebih Berpotensi Mengidap Demensia

Yang Tidak Minum Alkohol Lebih Berpotensi Mengidap Demensia - Motivasinews.com

MOTIVASInews.com – Ini mungkin berita yang paling mengejutkan yang dibaca Anda yang tidak minum alkohol sama sekali. Karena sebuah penelitian baru menyebutkan kalau orang-orang yang tidak minum alkohol pada usia paruh bayanya memiliki risiko lebih besar terkena demensia, dibandingkan mereka yang minum dalam jumlah sedang. Tapi manfaat ini khususnya untuk peminum wine atau anggur.

Peneliti menemukan sebanyak 45 persen orang yang pantang minum alkohol yang mungkin terkena demensia pada usia tua, dibandingkan dengan mereka yang minum dalam batas yang direkomendasikan yaitu hingga satu botol setengah anggur dalam seminggu.

Tapi jangan salah, orang-orang yang minum berlebih di atas batas 14 unit juga mengalami peningkatan risiko. Ini berdasarkan penelitian University College London dan institut kesehatan Perancis, Inserm. Risiko mengembangnya demensia mereka ini secara bertahap, seiring semakin banyaknya alkohol yang mereka konsumsi.

“Kami menunjukkan bahwa pantangan alkohol jangka panjang dan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko demensia,” tulis sang peneliti studi yang diterbitkan dalam British Medical Journal. “Mengingat jumlah orang yang mengidap demensia diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 dan belum adanya obat, maka pencegahan adalah kuncinya.”

Di antara orang yang pantang minum alkohol, penelitian ini juga menemukan peningkatan risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular. Ini adalah kedua kondisi yang dapat berkontribusi pada demensia, yaitu istilah kolektif hilangnya ingatan, pemikiran dan fungsi kognitif lainnya. Di Inggris demensia adalah salah satu penyebab utama kematian.

Ide untuk mengkonsumsi alkohol secara moderat sebelumnya telah dibahas bisa membantu melindungi terhadap kondisi ini, dengan mengurangi tingkat kolesterol dan tekanan darah, dan mungkin ini juga yang bertanggungjawab untuk mencegah demensia.

Meski begitu, para penulis mengatakan hampir tidak mungkin untuk menemukan penyebab pasti tanpa percobaan yang jauh lebih besar dan tidak praktis seperti hanya secara acak mengalokasikan peserta untuk berhenti minum atau minum lebih banyak saja.

Bisa juga orang berisiko tinggi terhadap penyakit metabolik ini akan berhenti minum, atau orang yang sehat mungkin akan menjadi peminum moderat. Untuk itu, para penulis mengatakan mereka tidak bermaksud mendorong siapa pun untuk mengubah kebiasaan mereka.

Sponsored