2839621_06660496-5775-4b56-bf6b-d19a632380e3

MOTIVASInews.com – Korea Selatan kini dikenal dengan kota-kota modern dan hegemoni budaya K-pop yang menggurita ke seluruh Asia bahkan dunia sehingga membuat orang-orang tertarik berkunjung ke negeri ginseng tersebut.

Berkunjung ke Seoul misalnya, nyaris selalu bisa dijumpai orang-orang berbahasa Indonesia di titik-titik destinasi wisata seperti di sepanjang Jalan Myeongdong dan pasar Dongdaemun.

Di kedua tempat itu, para wisatawan biasanya belanja habis-habisan. Mereka berburu kosmetik buatan Korea yang katanya punya kualitas bagus atau pernak-pernik Korea lain.

“Kosmetik di sini harganya bisa sepertiga harga di Jakarta. Selain itu, kalau belanja di sini pilihannya bisa jauh lebih banyak. Di Jakarta kita cuma punya 10 pilihan merk, tapi di sini bisa sampai ratusan,” kata Meilani Effendy, salah seorang wisatawan asal Jakarta di Seoul.

Selain belanja kosmetik, para pelancong bisa dipastikan juga merogoh koceknya untuk menikmati berbagai K-food yang juga kian populer seiring dengan makin banyaknya penggemar tayangan K-drama.

Tekad Baja Bangkit Dari Kemiskinan.

Namun, jauh sebelum Korea selatan menjadi seperti sekarang, negeri itu juga pernah terpuruk dalam kemiskinan.

Terpaut dua hari dengan Indonesia, Korea memproklamirkan kemerdekaannya dari Jepang pada 15 Agustus 1945.

Tak lama setelah itu, Korea mengalami perang saudara sekitar tahun 1950 hingga 1953 yang mencabik-cabik perekonomian dan stabilitas negara yang baru saja dibangun.

Pada saat itu, perekonomian rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian dan perikanan, namun para pemimpin Korea memiliki semangat baja untuk memajukan negaranya.

Salah satu tonggak kemajuan Korea adalah pada tahun 1960an, saat di mana Presiden Park Chung-hee berniat mentransformasi negara Korea yang agraris menjadi negara industri. Presiden pun memformulasi rencana pembangunan lima tahun (1962-1967) untuk fokus membangun industri baja yang merupakan induk dari segala industri yang ada.

Presiden Park kemudian menunjuk Park Tae-joon dari kalangan militer untuk memimpin pembangunan industri baja Korea.

Pada April 1968, pabrik baja pertama Pohang Iron and Steel Company (POSCO) didirikan dan memulai pembangunan konstruksi pabrik pertamanya di teluk Yeongil di Barat Daya Pohang pada April 1970.

Awalnya, tak ada yang percaya Korea mampu menjalankan pabrik baja karena negara itu memang tak memiliki modal, sumber daya alam, bahkan teknologi yang cukup. Namun, semangat baja yang menggelora dari rakyat Korea mampu membuktikan bahwa mereka mampu mengubah nasib.

Pada Juni 1973 pabrik baja mulai berjalan. Saat itu, kapasitas tahunannya hanya 1,03 juta metrik ton. Sejak saat itu, POSCO melakukan beberapa ekspansi dan produksi kian bertambah. Kini, kapasitas produksi pabrik Pohang sekitar 18 juta ton per tahun

Replika tanur tinggi atau blast furnace di Museum POSCO di Pohang, Korea Selatan.

Pada 1987 fasilitas kedua dibuka di Gwangyang. Sama seperti fasilitas di Pohang, pabrik Gwangyang juga memproduksi baja dari hulu hingga hilir. Bedanya, pabrik Gwangyang fokus memproduksi baja untuk industri otomotif. Kapasitas produksi pabrik Gwangyang sekitar 18 juta ton per tahun

Proses pembuatan baja di Gwangyang dimulai dari pengangkutan bijih besi yang diimpor dari berbagai belahan dunia, lalu dilelehkan menjadi besi lelehan di Blast Furnace atau tanur setinggi 100 meter.

Setelah itu, lelehan besi dibawa ke “Converter Furnace” di mana oksigen murni ditambahkan untuk menghilangkan zat-zat yang tak diinginkan seperti karbon, fosfor, dan belerang untuk menghasilkan baja leleh murni.

Pada tahap itu, suhu pelelehan disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Setelah itu, baja kemudian ditempa dan didinginkan menjadi baja padat, baja setengah jadi pun selesai, namanya “Slab”.

Proses pembuatan baja berlanjut ke proses “Rolling” atau proses penekanan baja mentah menjadi berbagai macam produk jadi. Slab diolah pada suhu 1.100 derajat Celcius untuk dipipihkan hingga menjadi lembaran baja panjang pipih.

Baja Hot-rolled (HR) atau baja canai panas biasa digunakan untuk bahan baku konstruksi dan pipa di berbagai macam industri.

Ketika HR diolah menjadi lebih pipih pada suhu ruangan, maka terbentuklah baja canai dingin atau cold-rolled (CR) yang digunakan untuk membuat barang-barang keperluan umum, tong dan rangka mobil.

Ada juga produk baja yang dilapisi Zinc atau seng untuk barang-barang peralatan rumah tangga mewah, perlengkapan kantor, dan eksterior mobil. Produk lainnya adalah lempengan baja yang digunakan untuk pipa baja, infrastruktur gedung dan kapal.

Indonesia Kekurangan Baja.

Berdasarkan studi POSCO Research Institute (POSRI), Indonesia masih kekurangan sekitar 6,7 juta ton baja tiap tahunnya. Kebutuhan itu utamanya untuk menggerakkan infrastruktur dalam negeri yang masih banyak membutuhkan baja.

“Berdasarkan data 2014, kebutuhan baja Indonesia adalah 13 juta ton, setengahnya yakni 6,5 juta ton sudah diproduksi dalam negeri dan setengahnya 6,5 juta ton masih diimpor,” kata Kepala peneliti dari POSCO Research Institute (POSRI) Kwang Sook Huh di Seoul.

Kebutuhan baja untuk konstruksi sekitar 66 persen atau 8,4 juta ton, untuk sektor otomotif 19 persen atau 2,4 juta ton, untuk permesinan 840 ribu ton dan untuk perkapalan sekitar 500 ribu ton.

“Jadi kalau dilihat kebutuhan baja Indonesia paling banyak untuk area konstruksi yakni 8,4 juta ton. Kebanyakan negara berkembang memang kebutuhan konstruksinya besar. Berdasarkan studi kami, perkiraan tahun 2025 pertumbuhan kebutuhan baja Indonesia naik 5,8 persen dengan total jumlah sekitar 24 juta ton. Dua kali lipat jumlah tahun 2014. Dibanding negara berkembang lain, kebutuhan Indonesia cukup tinggi perkembangannya,” kata Kwang.

Indonesia diprediksi masih kekurangan baja sekitar 17,6 juta ton pada 2025 dengan presentase kebutuhan setiap industri tak banyak berubah dengan presentase kebutuhan saat ini.

Saat ini, produksi baja dalam negeri hanya sekitar enam hingga tujuh juta ton pertahun. Padahal kebutuhan baja Indonesia menurut Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Zakir Sjakur Machmud, sekitar 13 hingga 14 juta ton per tahun.

“Mayoritas pabrik baja di Indonesia dikategorikan sebagai industri hilir, yang produknya banyak digunakan untuk konstruksi umum, transportasi dan industri mesin. Sedangkan kebanyakan produk baja yang diimpor adalah produk pertengahan atau midstream,” kata Zakir.

Penulis: Dwi Priyanto

Sponsored